MENU Jumat, 30 Okt 2026

Membakar Dupa dan Harapan di Surakarta, Umbul Donga Jadi Pesan Moral bagi Penguasa

waktu baca 3 menit
Jumat, 30 Okt 2026 04:46 9 redaksi

SURAKARTA – siskomaktual.com | Jumat, 30 Oktober 2026 – Asap dupa mengepul di halaman Balai Kota Surakarta. Puluhan budayawan dan pegiat spiritual berkumpul dalam kegiatan Umbul Donga & Sumpah Spiritual Nuswantara. Mereka memanjatkan doa sekaligus menyampaikan keprihatinan terhadap kondisi bangsa.(29/10)

Kegiatan tersebut menghadirkan suasana refleksi di tengah kehidupan masyarakat. Para peserta menggunakan tradisi dan doa sebagai sarana menyampaikan pesan moral kepada para pemimpin bangsa.

Istilah Umbul Donga memiliki makna memanjatkan doa. Dalam tradisi Jawa, masyarakat menggunakan doa bersama untuk mengungkapkan rasa syukur, memohon keselamatan, dan menyampaikan harapan. Dinas Kebudayaan DIY juga menjelaskan makna tersebut dalam salah satu publikasinya.

Umbul Donga Menjadi Ruang Penyampaian Pesan Moral

Para tokoh adat dan budayawan memimpin rangkaian prosesi. Kegiatan tersebut menghadirkan pembacaan doa, tahlil, serta penghormatan kepada leluhur, pahlawan, dan para pendiri bangsa.

Suasana semakin khidmat ketika peserta melantunkan sholawat dan tembang macapat. Perpaduan unsur spiritual dan budaya Jawa menghadirkan pesan tentang pentingnya menjaga nilai-nilai luhur bangsa.

Namun, kegiatan ini tidak hanya berbicara tentang tradisi. Para peserta juga menyuarakan keprihatinan terhadap kondisi sosial, demokrasi, toleransi, dan perilaku para pemimpin.

Salah seorang seniman menyampaikan bahwa mereka memilih doa sebagai bentuk penyampaian aspirasi. Menurutnya, masyarakat membutuhkan pemimpin yang mendengar suara rakyat dan mempertimbangkan kepentingan bersama.

Pesan tersebut juga menyoroti persoalan ekonomi masyarakat. Kenaikan kebutuhan hidup dan tekanan daya beli menjadi perhatian yang perlu mendapat respons dari para pengambil kebijakan.

Dari Sriwedari hingga Balai Kota, Budaya Menjaga Ruang Publik

Surakarta memiliki tradisi panjang dalam menggunakan kegiatan budaya untuk menyampaikan pesan sosial. Para seniman dan komunitas budaya kerap memanfaatkan ruang publik sebagai tempat berekspresi dan menyuarakan kepedulian.

Pengalaman kegiatan Umbul Donga di kawasan Sriwedari menjadi salah satu bagian dari perjalanan tersebut. Pada 2018, komunitas budaya juga menggelar kegiatan doa bersama untuk menyampaikan harapan terhadap kelestarian ruang bersejarah.

Kini, halaman Balai Kota menjadi tempat masyarakat menyampaikan pesan melalui pendekatan spiritual dan kebudayaan. Pemilihan lokasi tersebut menghadirkan simbol kedekatan antara masyarakat dan pusat pemerintahan.

Melalui kegiatan ini, para peserta mengingatkan bahwa pemerintah memiliki tanggung jawab besar terhadap kehidupan masyarakat. Pemimpin perlu menjaga kepercayaan publik, memperhatikan kebutuhan warga, dan merawat persatuan.

Merawat Persatuan Melalui Doa dan Kebudayaan

Umbul Donga juga membawa pesan tentang pentingnya persatuan. Masyarakat dapat menjaga kebersamaan meskipun memiliki latar belakang dan pandangan yang berbeda.

Tradisi budaya memberi ruang bagi masyarakat untuk bertemu, berdialog, dan menyampaikan harapan. Karena itu, kegiatan seperti ini memiliki nilai sosial selain nilai spiritual.

Di tengah berbagai persoalan bangsa, masyarakat membutuhkan ruang komunikasi yang sehat. Pemerintah, tokoh masyarakat, budayawan, dan generasi muda perlu membangun dialog yang terbuka serta saling menghormati.

Asap dupa mungkin perlahan menghilang dari halaman Balai Kota Surakarta. Namun, pesan yang muncul dari kegiatan tersebut tetap penting untuk direnungkan.

Doa dan tradisi bukan sekadar simbol kebudayaan. Keduanya dapat menjadi pengingat tentang tanggung jawab, kepedulian, keadilan, dan pentingnya menjaga amanah dalam kehidupan berbangsa.

Umbul Donga menjadi pesan sunyi dari masyarakat Surakarta: kekuasaan seharusnya hadir untuk melindungi, mendengar, dan mengayomi rakyat.

Bagaimana menurut Anda? Apakah kegiatan budaya dan doa bersama dapat menjadi ruang penyampaian aspirasi masyarakat kepada pemerintah? Sampaikan pendapat Anda secara santun di kolom komentar.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA