HEBOH! Muncul Daratan Baru 30,3 Hektare di Selat Sunda, Benarkah Cucu Krakatau Telah Lahir?
LAMPUNG SELATAN,
Kabar mengejutkan datang dari Selat Sunda. Di tengah sepinya perairan antara Pulau Jawa dan Sumatera, sebuah daratan baru seluas 30,3 hektare tiba-tiba muncul di sekitar Gunung Anak Krakatau. Foto udara yang beredar luas di media sosial memperlihatkan sebuah hamparan gelap dikelilingi buih putih ombak, yang disebut-sebut sebagai calon pulau baru.
Fenomena langka ini langsung memicu kehebohan publik dan memunculkan satu pertanyaan besar: Apakah Cucu Krakatau telah lahir?
Bukan Muncul Semalam, Tapi Hasil Letusan Bertubi-tubi
Misteri kemunculan daratan baru ini akhirnya terjawab. Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno. membenarkan adanya daratan tersebut.
Menurut Suwarno, daratan seluas 30,3 hektare itu tidak muncul secara ajaib dalam semalam. Daratan itu adalah hasil akumulasi material vulkanik dari erupsi Anak Krakatau yang terus-menerus dalam beberapa bulan terakhir.
Material berupa abu, batuan, pasir, dan lava yang dimuntahkan gunung perlahan-lahan menumpuk di dasar laut yang dangkal di antara *Pulau Anak Krakatau dan Pulau Sertung*, hingga akhirnya menyembul ke permukaan dan membentuk hamparan daratan baru.
“Ya, hasil dari letusan kemarin itu. Kurang lebih 30,3 hektare,” ujar Suwarno, Rabu (23/9/2026) lalu.
Bagi para ahli, fenomena ini seperti mengulang sejarah kelahiran Anak Krakatau itu sendiri.
Seperti diketahui, setelah letusan mahadahsyat Krakatau pada Agustus 1883 yang merenggut lebih dari 36.000 jiwa, kawasan itu sempat vakum. Baru pada Desember 1927, aktivitas bawah laut kembali tercatat di dalam kaldera lamanya. Sebulan kemudian, sebuah pulau kecil mulai menampakkan diri. Melalui proses panjang erosi dan letusan berulang, pulau itu akhirnya permanen pada Agustus 1930 dan diberi nama Anak Krakatau.
Siklus sejarah itulah yang membuat publik cepat mengaitkan daratan baru tahun 2026 ini sebagai proses kelahiran gunung baru.
Ahli: Bukan Gunung Api Baru, Tapi Perlu Waspada
Namun benarkah daratan 30,3 hektare itu adalah gunung api baru atau “Cucu Krakatau”?
Para ahli meminta masyarakat untuk tidak berspekulasi berlebihan. Menurut Dr. Daryono dari Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), daratan tersebut bukan merupakan gunung api independen, melainkan tumpukan material erupsi yang mengendap.
Hal senada disampaikan Suwarno. Ia menegaskan istilah “cucu Krakatau” belum bisa dibenarkan secara ilmiah, karena jalur magma di bawah permukaan tidak bisa dipastikan hanya dari perubahan di permukaan laut.
Ketahanan daratan baru ini pun masih menjadi tanda tanya. Jika erupsi Anak Krakatau terus memasok material dan lava membeku, daratan itu bisa semakin luas dan kuat. Namun jika pasokan berhenti, gelombang Selat Sunda dan abrasi bisa kembali mengikis dan menenggelamkannya ke laut.
Saat ini status Gunung Anak Krakatau berada di Level II Waspada, turun dari Level III Siaga pada 2 Juli 2026 lalu. Petugas pos pantau masih terus memantau secara intensif perkembangan aktivitas gunung dan perubahan morfologi di sekitarnya.
Fenomena daratan baru 30,3 hektare ini menjadi bukti betapa dinamisnya Gunung Anak Krakatau, gunung api paling aktif di Indonesia yang terus tumbuh dan membentuk wajah baru Selat Sunda.
Redaksi
Tidak ada komentar